Konvensional
  ONS (ONE NIGHT SERVICE) 01
  <<-Previous | Next->>  

Sinopsis: Masuk rumah sakit dan divonis harus rawat inap sungguh tidak enak. Apalagi pasien di sebelah kiri dan kanan rada-rada sableng. Yang satu berhubungan seks dengan istrinya di malam hari, dan yang satu lagi malah menyelinap pergi jojing ke diskotik. Bagaimana kiat Budi mengobati tuntutan arus bawah? Jawabnya, One Night Service!

Sibuk ngurusin kerjaan yang ruwet, membuat pusing tujuh keliling. Sebenarnya sudah merupakan suatu siklus, kalau akhir tahun, buat daftar prospek tahun depan alias rencana pendapatan dan pengeluaran, laporan realisasi prospek dan acara tutup buku. Sementara kerjaan di awal tahun adalah cek fisik antara stok barang di gudang dengan yang di akunting, siap-siap pajak di bulan Maret. Pertengahan tahun rapat umum pemegang saham. Itu yang rutin, belum yang darurat.

Yah, namanya juga manusia. Kadang ada sehat kadang ada saat sakit. Karena kesibukanku, kurang tidur, nggak pernah olah raga, makan nggak teratur, kencing sering ditahan karena lagi tanggung (kamar mandinya jauh), ditambah buang air besar yang nggak jelas jadwalnya, akhirnya tumbang juga. Aku coba doping dengan multi vitamin dan beristirahat. Tetap saja nggak ada perubahan. Istirahat di rumah mana bisa total. Kadang ada telepon atau ada acara televisi bagus nonton, macem-macem deh.

Aku kontrol lagi dan dokter memvonisku untuk segera rawat inap dan istirahat total alias bed rest. Karena penyakit hepatitis, dia melarangku pulang, memintaku langsung masuk kamar. Aku telpon orang rumah untuk membawakan keperluanku - hanya alat kecil inilah penghubungku ke dunia luar. Paling nggak enak dengan bed rest - nggak bisa ngapa-ngapain, makan, minum, pipis, dan lain sebagainya di tempat tidur.

Perusahaanku menggunakan jasa asuransi, sehingga dengan jasa tersebut aku masuk sebuah rumah sakit di daerah Kuningan, Rasuna Said. Sesuai dengan preminya aku masuk ruangan perawatan yang berisi tiga tempat tidur, dan di pojoknya terdapat kamar mandi. Setelah menandatangani beberapa surat rawat inap dan lain-lain, aku masuk ke kamar perawatan yang bersisi dua tempat tidur. Kemudian aku baru tahu bahwa tempat tidur dekat kamar mandi sedang diletakkan di luar karena pasiennya habis meninggal tadi pagi. Wah, tambah serem aja.

Belum ada pasien yang menginap di kamar tersebut, jadi aku sendirian. Serem bener di kamar rumah sakit. Sendirian lagi, nggak ada teman, habis ada yang meninggal lagi. Aku pilih tempat tidur di tengah, karena di sebelah kanan dekat jendela. Nah, di luar jendela itu ada papan reklame dengan menggunakan lampu yang cukup terang, takut malamnya menyilaukan aku walaupun ada tirainya, sementara yang kiri dekat dengan kamar kecil, takut bau.

Nggak lama datang dua orang perawat dengan membawa botol infus dan peralatan lainnya. Pertama dia memasang gelang plastik, yang bertuliskan namaku. Kemudian mengukur suhu di ketiakku. Tidak berapa lama bersiap menusuk pergelangan tanganku untuk memasang infus. Enak juga ternyata ikut asuransi, nggak usah repot mikir beli obat.

"Pak, pasang infus yah," katanya.
"Suster, aku takut lho sama jarum!" kataku manja seperti anak kecil.
"Ya, rileks aja Pak, nggak sakit koq!" kata yang satunya. Ditekan pergelangan tangan kiriku dengan kuat dan dipukul dengan jari untuk mencari pembuluh darah yang akan ditusuk. Begitu mendapatkan, ces, aduh sakitnya.

Setelah acara infus, aku ingin sekali istirahat. Mata ini akan terpejam, eh datang lagi dua orang perawat yang berbeda dengan yang tadi.
"Maaf Pak, skin test," katanya.
"Buat apaan sih?" tanyaku.
"Sebelum Bapak diberi antibiotik, dicoba dulu, Bapak alergi nggak," jawabnya.
"Suster, aku ini udah sakit. Tambah sakit Sus, kalau ditusukin terus," kataku.
"Nggak sakit koq Pak. Paling sakit sedikit seperti dicubit," katanya.
"Ya sudah," kataku sambil memberikan lengan kananku. Tidak berapa lama dia menyuntikkan obat, tetapi tidak ke dalam daging, hanya berkisar antara kulit dan daging. Aduh mak, sakitnya, minta ampun.

"Khan, nggak sakit kan?" katanya menghibur. Nggak lama dia pergi.

Baru mau memejamkan mata sudah datang lagi pegawai dari laboratorium, yang ingin mengambil darahku, dan memberikan tempat untuk menampung air seni dan kotoranku. Kapan aku istirahat, kalau pegawai rumah sakit silih berganti menggangu pasiennya.

Akhirnya aku istirahat siang. Cukup lama nampaknya, hingga aku terbangun karena ada suara agak berisik. Ternyata ada pasien baru. Tentu saja seorang pria, nggak mungkin kan dicampur. Dia mengambil tempat di sisi jendela. Penyakitnya sama dengan aku, cuma dia agak parah. Sama dengan aku, datang sendirian. Sambil memicingkan mata karena silau, tampan juga tampangnya, seperti seorang presenter sebuah acara kuis di televisi. Dari namanya aku tahu kalau dia orang Manado.

Suster yang memasang gelang plastik dan infus, nampaknya lebih pelan dan nggak buru-buru seperti aku. Wah, ternyata susternya melek juga matanya kalau lihat pria ganteng. Sama halnya dengan diriku, belum sempat dia beristirahat, sudah datang lagi perawat yang lain. Prosedur yang sama denganku dilakukan tetapi dengan cara yang berbeda, agak dilama-lamain dalam melayani. Ternyata, suster suka juga dengan pria tampan.

Baru kita berdua akan istirahat, menjelang sore, kira jam 15:00, terdengar suara tempat tidur masuk, kemudian dibersihkan dan dipasang bed cover. Dan tak lama datang lagi pasien, pria tentunya. Kali ini bersama dengan istrinya, dan nggak tanggung-tanggung, datang dari daerah Irian Jaya, istrinya tinggal di Jakarta sedangkan suami lagi tugas, langsung masuk rumah sakit. Karena sisa tempat tidur ada di dekat kamar mandi, yah itulah pilihannya.

Dianya langsung mendapat perlakuan sama dengan pasien lainnya. Penyakitnya belum jelas, aku dengar dari pembicaraan mereka. Repot lho, kalau belum jelas penyakitnya. Bisa-bisa salah obat. bukan sembuh tapi makin parah. Jeleknya lagi setelah parah baru ketahuan penyakitnya dan ternyata salah diagnosa.

Menjelang jam 16:00, acara mandi sore. Aku ingin kencing, tetapi aku bel, kok nggak ada perawat yang datang untuk membawakan pisspot. Ah bodo amat, jalan ke situ aja masak nggak kuat sih. Paling cuma lima meter. Aku coba matikan dulu roda pengatur cairan infus, dan aku ambil botolnya. Udah gitu jalan ke kamar mandi sambil bawa botol infus. Pas aku mau masuk ke kamar mandi, terdengar, pembicaraan di luar ruang.

"Kita hom pim pa aja, untuk menentukan siapa yang mandiin dia," kata seorang wanita.
"Nggak bisa gitu dong. Curang itu namanya. Kamu khan tadi udah masang infusnya, terus kamu sudah skin test, sekarang giliran kita!" kata seorang wanita lainnya. Seterusnya aku nggak dengar, karena air seniku sudah di ujung tanduk.

Setelah kembali dari kamar kecil, ternyata Mas Manado itu lagi di washlap. Gitu aja rebutan. Tidak lama giliran aku tapi dengan perawat yang lain. Sementara di sebelah kiriku dibersihkan oleh istrinya sendiri. Tidak berapa lama datang petugas laboratorium untuk mengambil semua contoh air seni dan kotoran para pasien.

Jam besuk mulai tiba, nah ramai deh. Teman kantor masing-masing pasien berdatangan. Saat mereka pulang, datang lagi para tetangga. Agak malam, datang beberapa kerabat dekat. Jam besuk habis, mulai sepi lagi. Setelah menghabiskan makan malamku, aku tidur. Semua tirai ditutup sehingga menutupi sekeliling tempat tidur pasien. Kurang lebih sama dengan di papitra kelas reguler. Malam Pertama pun berjalan lancar.

Hari ke dua, pagi hari jam 06:00 sudah mulai sibuk. Pegawai kebersihan membersihkan ruangan dan kamar mandi. Nggak lama pegawai laboratorium datang untuk mengambil darah lagi. Semua pasien dibersihkan alias mandi bagi yang sudah bisa jalan. Semua tirai pembatas antar pasien dibuka, sehingga ruangan terlihat agak luas. Suster menyiapkan semua status para pasien di meja dokter ruangan. Suster yang jaga tadi malam membersihkan diri siap-siap serah terima pekerjaan dengan yang tugas pagi, tetapi sebelum mereka pulang ikut visit dokter ke ruangan pasien. Makanan pagi datang.

Dokterku ternyata sama dengan dokter tetangga pasienku di kiri dan kanan. Orangnya sudah berumur, tetapi kocak.
"Bagaimana Pak, sehat?" tanyanya ke si Mas Manado.
Dia nggak jawab, hanya senyum saja. Aku perhatikan mata para suster seperti akan keluar aja dari kelopak matanya. Tidak lama dia melihat status dan menerima laporan dari suster jaga malam.
"Bagus, kondisi sudah mulai membaik, tetapi masih perlu recovery," kata dokter.
"Kalau kondisi ini terus membaik kita coba lepas infusnya, kalau tidak ada apa, boleh pulang, OK?" tambahnya.

Setelah itu berpaling ke arahku, dan...
"Bagaimana Pak, kabarnya?" tanyanya.
"Yah begini Dok, masih di tempat tidur," jawabku.
"Apa yang dirasakan," katanya. Dokter aja nanya, artinya masih pinteran pasiennya dong!
"Perut agak gimana gitu Dok. Seperti makan kekenyangan, padahal makannya khan bubur. Agak sedikit mual, dan lemah," kataku.
"Baik, kalau gitu. Saya beri obat anti mual dan obat multi vitamin dosis tinggi, biar cepat pulih. Kalau lihat hasil lab pagi ini SGOT dan SGPT-nya mulai ada perubahan membaik," katanya sambil memberikan perintah ke suster jaga pagi untuk mengganti obat yang aku minum.

Dokter memeriksa ke pasien sebelahku.
"Bagaimana Pak hari ini?" tanya dokter.
"Baik Dok," jawabnya.
"Apa yang dirasakan?" tanya dokter lagi.
"Tidak ada apa-apa Dok," jawabnya.
Dokter melihat status, dan...
"Infusnya boleh dilepas, obat ini dihentikan, ganti dengan yang ini," memberikan perintah ke suster jaga pagi. Inilah bisnis kesehatan, dengan enaknya mengganti obat, padahal khan beli, sementara ada pasien yang nggak mampu butuh obat.
"Pak, kita lihat apakah ada perubahan setelah infus dilepas. Kalau melihat hasil rotgen, laboratorium, dan suhu, tidak ada masalah. Jangan-jangan hanya kangen sama istri," kata dokter sambil bercanda dan meninggalkan ruang untuk menuju ke ruangan lainnya.

Kegiatan tak jauh beda dengan kemarin. Perbedaan hanya, pasien sebelah kiriku, mandi sorenya di kamar mandi dan istrinya tidak pulang. Malam pun tiba. Setelah lampu dan televisi dimatikan serta tirai ditutup oleh suster. Kita semua mulai tidur. Istri bapak di sebelahku tadinya tidur sambil duduk di kursi dan badannya disandarkan telungkup di tempat tidur. Karena suaminya kasihan lihat istrinya tidur seperti itu akhirnya dia tidur bareng satu tempat tidur. Tumben malam ini aku sulit tidur. Maklum nggak biasa tidur siang. Tadi siang aku tidur cukup lama, jadi kelebihan tidur. Akibatnya malam sulit tidur - selagi sehat aku hanya tidur empat sampai lima jam, karena aku punya hobi tidur menjelang pagi.

Pasien sebelah kananku mendengkur. Si mas Manado ternyata cakep-cakep ngorok toh. Terdengar sayup-sayup suara yang nggak asing olehku dari sebelah kiri. Di dalam ruang kamar yang redup dan penyejuk ruang yang cukup dingin, menunjang untuk melakukan hajat mereka, Apalagi telah berpisah cukup lama. Perbuatan mereka cukup sempurna, hampir tidak mengeluarkan rintihan, tetapi deru nafasnya yang nggak bisa diatur di tengah malam yang sepi, di rumah sakit lagi. Beruntung tempat tidur yang digunakan cukup baik sehingga tidak mengeluarkan bunyi. Seandainya aku mau iseng, bisa aja aku tarik rem roda tempat tidur itu sehingga akan ada guncangan sesuai dengan goyangan mereka.
Malam ke dua - Pasien sebelah kiri GILA.

***********

Pagi harinya, kegiatan rutin seperti biasa. Istri pasien sebeleh pulang sebelum fajar. Suster yang membersihkan sprei bapak sebelah kiri bingung, masalahnya ada noda yang nggak umum untuk di rumah sakit. Setelah si bapak keluar dari kamar mandi (Weleh weleh habis keramas dia), ditanya sama suster, "Pak ini noda apaan, nih?" tanya suster.
"Oh maaf suster, saya mimpi basah. Maklum udah lama nggak campur, terus bertemu istri, jadi ngimpinya ngaco," jawabnya polos. Udah tua juga suka bohong nih si bapak. Susternya geleng-geleng sambil memasukkan ke dalam plastik dan mengganti dengan yang baru.

Setelah visit dokter, infusku dilepas. Mas Manado juga dilepas, tetapi jangan turun dari tempat tidur kecuali untuk aktifitas ke kamar mandi. Kegiatan yang membosankan pun berjalan, hingga sorepun tiba. Benar-benar menghitung hari aja di sini kegiatannya. Aku lihat si Manado setelah mandi, tidak menggunakan pakaian pasien (asli lho, seperti narapidana aja, pakai seragam dan dipeneng) dan menggunakan parfum, nggak lama dia...

"Mas, di samping itu kalau nggak salah ada diskotik namanya D****(edited)?" tanyanya.
"Iya," jawabku.
"Tolong, kalau ditanya Suster bilang aku ke bawah sebentar," katanya.
"He eh," jawabku. Langsung dia ngeloyor pergi. Dasar gila jojing.
Istri bapak sebelah sudah datang, tampak ceria sekali. Tadi siang aku sempat bicara dengan bapak di sebalah kiriku. Ternyata dia telah jauh dari istri sekitar dua bulan. Oh pantes didukung situasi dan kondisi seperti itu aku maklum aja.

Sesuai dugaanku malam ini, si bapak melangsungkan lagi buang hajatnya. Lebih seru lagi nampaknya, "pertempuran" ke dua, soalnya si ibu sampai mengeluarkan sedikit desah, bahkan lupa sama tumitnya yang sudah mendorong tirai hingga menonjol ke arah tempat tidurku. Sepertinya si ibu di bawah dan kakinya dibuka lebar ke atas. Aku tertidur sambil mendengarkan desahannya. Aku nggak tahu si Manado gila jojing itu pulang jam berapa. Bodo amat.
Malam ke tiga - Pasien sebelah kiri dan kanan sama GILA-nya.


Bersambung ke bagian 02

<<-Previous | Next->>